Hari Ini Tiga Puluh Tahun Lalu
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Hari masih pagi, belum
pukul 07.00. Pendopo Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan sudah
ramai.
Sekelompok anak dari
Yayasan Pendidikan Musik mengalunkan lagu selamat ulang tahun,
sementara orang uang dituju oleh lagu itu turun dari mobil bersama
istrinya. Kamis, 7 Juli 1977, tepat 30 tahun lewat, Gubernur Jakarta
Ali Sadikin berulang tahun yang ke 50. Semua yang hadir mengucapkan
dan mengecupkan selamat ulang tahun kepada “Bapak Kota” yang akan
segera mengakhiri masa jabatannya itu. Mulai dari Direktur PJKA,
Direktur PLN, Pejabat Telkom, Pos dan Giro dan sederet penggede
lainnya.
Perusahaan Jawatan Kereta
Api memberi plakat berupa lambang perusahaan, Wahana Daya Pertiwi,
yang terbuat dari emas 23 karat, 215 gram. Yayasan Pendidikan Musik
memberikan medali kepada Bang Ali, disamping alunan musik Orkes
Simfoni Remaja. Dua gadis, atas nama orang tua mereka, memberikan
sebuah lukisan dari kerang yang harganya selangit.
Beberapa puluh meter dari
kerumunan, seorang laki-laki melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu
memasuki halaman Balai Kota. Tangannya menjinjing bungkusan dari
bambu. Isinya sebuah kue tart. Dia sudah menunggu di pinggir jalan
sejak pukul 6 pagi.
Menarik nafas dalam
sembari memberanikan diri, laki-laki itu menerobos kerumunan anak
sekolah yang sedang minta tanda tangan Sang Gubenur. “Bang Ali,
saya rakyat kecil dari Johar Baru,” ujar laki-laki itu, “kampung
saya jadi baek karena terkena (Proyek Perbaikan Kampung) Husni
Thamrin.”
Belum sempat Ali Sadikin
mebalas, laki-laki itu mengucapkan terima kasih atas nama keluarganya. “Ini
tandanye, cuman berbentuk kue ulang tahun,” lanjutnya.
Bang Ali terkesima. Dia
tidak menyangka ada rakyat kecil yang memperhatikan hari ulang
tahunnya. Datang tanpa pamrih, tanpa diundang.
Setelah menyalami
pemberinya, Bang Ali mengangkat kue itu tinggi-tinggi. Matanya
berkaca-kaca tanda terharu.
Kejutan tidak berhenti, si
pemberi kue ternyata juga bernama Ali. Di Kampung Johar Baru dia
membuka usaha bengkel, sehingga dipanggil Bang Ali Bengkel.
Dia juga berulang tahun
hari itu dengan beda usia 10 tahun lebih muda dari Ali Gubernur.
Ulang tahun Bang Ali Bengkel yang ke-empat puluh itu menjadi ulang
tahunnya yang paling mengesankan. Sudah bertahun-tahun dia
berkeinginan bertemu dengan Ali Sadikin dan selalu mengingat ulang
tahunnya. “Baru kali ini beraniin, soalnya ini adalah kesempatan
terakhir,” ujar Ali Bengkel. Dalam hitungan hari idolanya turun
dari tahtanya sebagai orang nomor satu di Jakarta. Itu berarti
hilang pula kesempatan Ali Bengkel menemuinya di Balai Kota yang
terbuka untuk dimasuki warga Jakarta itu.
(diambil dari Buku Memoir
Ali Sadikin: Demi Jakarta 1966-1977)
