Hari Ini Tiga Puluh Tahun Lalu

July 6th, 2007 by rere-hore

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

                                                                                                                                        Imgsadikinali_1

Hari masih pagi, belum
pukul 07.00.  Pendopo Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan sudah
ramai. 

Sekelompok anak dari
Yayasan Pendidikan Musik mengalunkan lagu selamat ulang tahun,
sementara orang uang dituju oleh lagu itu turun dari mobil bersama
istrinya.  Kamis, 7 Juli 1977, tepat 30 tahun lewat, Gubernur Jakarta
Ali Sadikin berulang tahun yang ke 50.  Semua yang hadir mengucapkan
dan mengecupkan selamat ulang tahun kepada “Bapak Kota” yang akan
segera mengakhiri masa jabatannya itu.  Mulai dari Direktur PJKA,
Direktur PLN, Pejabat Telkom, Pos dan Giro dan sederet penggede
lainnya.

Perusahaan Jawatan Kereta
Api memberi plakat berupa lambang perusahaan, Wahana Daya Pertiwi,
yang terbuat dari emas 23 karat, 215 gram.  Yayasan Pendidikan Musik
memberikan medali kepada Bang Ali, disamping alunan musik Orkes
Simfoni Remaja.  Dua gadis, atas nama orang tua mereka, memberikan
sebuah lukisan dari kerang yang harganya selangit.

Beberapa puluh meter dari
kerumunan, seorang laki-laki melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu
memasuki halaman Balai Kota.  Tangannya menjinjing bungkusan dari
bambu.  Isinya sebuah kue tart.  Dia sudah menunggu di pinggir jalan
sejak pukul 6 pagi.

Menarik nafas dalam
sembari memberanikan diri, laki-laki itu menerobos kerumunan anak
sekolah yang sedang minta tanda tangan Sang Gubenur.  “Bang Ali,
saya rakyat kecil dari Johar Baru,” ujar laki-laki itu, “kampung
saya jadi baek karena terkena (Proyek Perbaikan Kampung) Husni
Thamrin.”

Belum sempat Ali Sadikin
mebalas, laki-laki itu mengucapkan terima kasih atas nama keluarganya.  “Ini
tandanye, cuman berbentuk kue ulang tahun,” lanjutnya.

Bang Ali terkesima.  Dia
tidak menyangka ada rakyat kecil yang memperhatikan hari ulang
tahunnya.  Datang tanpa pamrih, tanpa diundang.

Setelah menyalami
pemberinya, Bang Ali mengangkat kue itu tinggi-tinggi.  Matanya
berkaca-kaca tanda terharu.

Kejutan tidak berhenti, si
pemberi kue ternyata juga bernama Ali.  Di Kampung Johar Baru dia
membuka usaha bengkel, sehingga dipanggil Bang Ali Bengkel. 

Dia juga berulang tahun
hari itu dengan beda usia 10 tahun lebih muda dari Ali Gubernur.   
Ulang tahun Bang Ali Bengkel yang ke-empat puluh itu menjadi ulang
tahunnya yang paling mengesankan.  Sudah bertahun-tahun dia
berkeinginan bertemu dengan Ali Sadikin dan selalu mengingat ulang
tahunnya.   “Baru kali ini beraniin, soalnya ini adalah kesempatan
terakhir,” ujar Ali Bengkel.  Dalam hitungan hari idolanya turun
dari tahtanya sebagai orang nomor satu di Jakarta.  Itu berarti
hilang pula kesempatan Ali Bengkel menemuinya di Balai Kota yang
terbuka untuk dimasuki warga Jakarta itu.

(diambil dari Buku Memoir
Ali Sadikin: Demi Jakarta 1966-1977)

Terjebak Rayuan Ringgit

March 23rd, 2007 by rere-hore
"Aku pulang dari rantau,Bertahun di negeri orang,Inilah kisahku, semalam di Malaysia..."

Penggalan lagu yang dipopulerkan oleh grup musik D'Lloyd di tahun 1970-an di atas rupanya tidak akan membawa kenangan manis bagi tenaga kerja Indonesia yang dideportasi Pemerintah Malaysia.

Tidak ada keriangan yang tampak dari raut muka 221 orang itu.  Pekerja yang di cap ilegal tersebut menenteng barang bawaan masing-masing.  Dengan gontai, mereka turuni tangga besi Kapal Dobonsolo yang bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, siang itu.

Impian mengais ringgit telah berganti menjadi mimpi buruk di negeri jiran.

"Awak trauma," kata Yanti Ismail 22 tahun dalam logat Melayu kental.  Ketika masuk ke Malaysia lima tahun silam, perempuan asal Palu, Sulawesi Tengah ini sama sekali tidak membayangkan rentetan peristiwa buruk yang akan dialaminya.  

Awal kehidupan Yanti di sana terbilang lancar.  Ia dapat menikmati kucuran ringgit dalam bilangan lumayan.  Bekerja di sebuah pabrik kasur di Kuala Lumpur, perempuan berkulit gelap ini menerima upah yang setara dengan uang Rp 2 juta.  Berbeda dengan rekan-rekannya, buruh di Indonesia, yang hanya menerima Upah Minimum Regional di bawah Rp 1 juta.

Pertengahan tahun 2003, Yanti berkenalan dengan Rahman.  Ia pun menjalin tali kasih dengan pria 40 tahun itu.  Namun, kisah cintanya tidak semanis kisah sinetron.  Oktober 2005, setelah ajakan bersetubuh ditolak,Rahman memerkosa Yanti.  Kejadian biadab ini dilakukan oleh pria Malaysia itu berkali-kali.  "Saat itu ia mengancam, jangan sampai saya hamil," kata Yanti sambil terisak.  

Namun nasib menggariskan guratan lain.  Yanti hamil.  Mengelak tanggung jawab, buruh pabrik  ini memaksa Yanti menggugurkan kandungannya. 

Yanti berkukuh menolak. Rahman yang mengetahui status ketenagakerjaan Yanti tidak kehabisan akal.  Dia melaporkan Yanti ke Polisi Diraja Malaysia.  

Terbukti bekerja di negeri orang tanpa dibekali izin, Yanti dijebloskan ke sebuah penjara di Langkap, Negara Bagian Perak. "Masa itu sedang hamil empat bulan," ujar Yanti.

Awal Juli 2006, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.Diberinya nama Muhammad Farid Kamil.  "Untungnya pihak pemerintah Malaysia berkenan menanggung biaya melahirkan di rumah sakit," kata Yanti sambil menyusui bayinya.

Yanti mengatakan masih banyak teman senasibnya yang berada dalam tahanan Malaysia."Mereka minta dipulangkan secepatnya," ujarnya.   

Menurut Danang, Kepala Seksi Bimbingan dan Evaluasi Departemen Sosial, saat ini diperkirakan masih terdapat 2000-an tenaga kerja Indonesia yang berada di balik jeruji tahanan Malaysia.  "Kalau jumlah TKI ilegal yang diluar tahanan pasti lebih banyak," katanya.

Yanti mengaku telah mengambil langkah salah dengan memasuki ranah jiran itu tanpa izin.  Kepadanya, teman-teman di penjara menuturkan hal senada.  "Tapi mau bagaimana, di kampung sulit cari kerja," katanya.

Sesaknya himpitan ekonomi membuat Yanti dan kawan-kawan terjebak rayuan ringgit.  Rayuan yang membawanya ke luka yang membekas sepanjang hidup.

Megaria Disayang, Megaria Dilelang

March 21st, 2007 by rere-hore


Nyonya Tati, 56 tahun, terhenyak ketika membaca berita rencana penjualan Bioskop Megaria di sebuah harian Ibu Kota.  Matanya yang minus dan silindris dipicingkan.  Duduknya mendekat ke meja, tempat koran itu terbuka.

Usai membaca, dia kembali bersandar.  Pikirannya melayang jauh ke belakang, sekitar pertengahan tahun 1970-an.  Saat itu Tati yang masih lajang tinggal di Jalan Proklamasi nomor 96B, sepelemparan batu dari Megaria.

Dekatnya jarak menjadikan Megaria sebagai tempatnya memadu kasih dengan Soebiyantoro, pria yang kemudian dinikahinya.  "Kami sering pacaran di situ," kata nenek 2 cucu ini.  

Pilihan utama mereka, tentunya, adalah menonton film layar lebar.  "Dulu tidak seperti sekarang, bioskop bagus dimana-mana," ujar Tati.  Pilihan masih terbatas antara Megaria, Djakarta Teater dan Presiden Teater di dekat Monas.    

Selain menonton mereka berdua kerap bersantap di kios-kios rumah makan di kompleks itu.  "Dulu ada warung sate kambing yang paling terkenal se-Jakarta," ujar Tati.  

Terlepas dari unsur hiburan, Megaria juga menyediakan kebutuhan sehari-hari.  "Dulu supermarket ber-AC sangat jarang, tapi di Megaria sudah ada," kata Tati.  Walaupun harganya lebih mahal dibanding toko kebanyakan, supermarket itu selalu penuh.  "Karena selain nyaman, juga ada kebanggaan bisa belanja di sana," katanya mengenang.
Kebiasaan berplesir ke Megaria diteruskan Tati setelah berkeluarga.  "Paling tidak sebulan sekali kami ke sana," katanya.  Tati mengajak serta Yuri, putri pertama mereka, ke gedung yang dibangun tahun 1932 itu.  

Walaupun Tati dan keluarga telah pindah ke bilangan Kembangan, Jakarta Barat, sejak awal 1980-an, Megaria tetap terpatri dalam kenangannya.  "Karena bentuknya tidak pernah berubah," katanya.

Dia menjadi was-was dengan rencana penjualan gedung yang dulunya bernama Bioskop Metropole itu.  Rencana penjualan dapat dilihat di situs indorealestates.com.  Gedung dan lahan 11.800 meter persegi itu dibandrolRp 151 miliar.  "Dengan sepinya Megaria saat ini, pasti pemilik baru merombaknya," kata Tati.  

Pemilik sekaligus direktur PT Bioskop Metropole, Handoyo, kini berusia sekitar 80-an.Dia melego asetnya karena pertimbangan usia yang sudah uzur.  Sementara, bisnis bioskop tidak menarik di mata putera-puterinya.

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta menegaskan tidak akan membiarkan pemilik baru mengubah bentuk bangunan itu.  Pasalnya, pada tahun 1993 Gubernur Soerjadi Sudirja menetapkan Megaria sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya.  "Boleh dijual, tapi tidak boleh dibongkar," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Aurora Tambunan.

Namun, pernyataan itu disangsikan oleh Tati.  "Zaman sekarang kan yang paling berkuasa uang," katanya.  

Kekhawatiran senada dilayangkan Ketua Komunitas Pecinta Sejarah Historia, Asep Kambali.  Menurut dia pemilik baru sangat besar kemungkinan untuk mempermak Megaria.  Terutama mengingat lahan parkir di muka gedung yang luasnya lebih dari gedung itu sendiri.  

Jika lahan itu dibangun, bioskop tua itu akan tertutup dari jalan.  "Kalau tidak bisa dilihat apa gunanya cagar budaya," kata Asep. 

Mengingat maraknya pembangunan mal di Jakarta, Asep menyangsikan masa depan gedung bioskop itu.  "Kalau sudah jadi mal, sulit mempertahankan bangunan tua itu," kata Asep.

Jika kekhawatiran itu terbukti, Tati yakin tidak hanya dirinya yang kehilangan banyak kenangan di Megaria.  "Teman-teman sekantor dulu juga sering berkumpul di sana," kata dia.  

Bila ada penawar serius, agaknya mereka harus mengubur kenangan manis di Megaria.

Mimpi Anak Jakarta

May 28th, 2006 by rere-hore

Aku berada di atas sampan, mengarungi sungai yang airnya biru jernih.  Terlihat ikan-ikan kecil berenang didalamnya.  Di pinggiran, bocah-bocah berenang dengan bebasnya.  Sementara muda-mudi duduk di bawah pohon rindang yang tumbuh di sepanjang tepian sungai.   Mereka menghabiskan waktu bersama pasangannya sambil menikmati semilir angin sore.  Seorang pemuda memetik gitar sambil bernyanyi, “mungkinkah bila ku bertanya kepada bintang-bintang.”

“Hmph, lagu Peterpan,” gumamku.   

Tempat ini elok sekali.  “Dimanakah aku?” tanyaku pada hati.  Kutengok ke kanan, tampak bangunan yang mirip Gajah Mada Plaza.  “Tak mungkin, Ciliwung tiada seindah ini,” ku membantah. 

Kuteruskan laju sampan.  Berbelok kiri menjauhi matahari petang.  Istana Merdeka tampak di sebelah kanan.  Berturut bangunan-bangunan yang tidak asing, Masjid Istiqlal, Gedung Kesenian, dan Passer Baroe.  “Ini Jakarta !!!” pekikku.

“Iya, kamu kira dimana?” tanya seorang bapak yang sedang mengayuh kanu bersama anaknya.  Mereka berdua memandangku dengan tatapan aneh.  Tak kugubris.  Aku terlalu terpana dengan kecantikan kota kelahiranku ini.

Dengan senyum dan semangat, kukayuh sampanku menyusuri Ciliwung nan permai itu.  Kelihatannya perahu menjadi bagian dari kehidupan warga.  Dermaga dapat dengan mudah ditemui.  Kuputuskan menepi di Gunung Sahari. 

Di jalanan, kendaraan tetap ada, namun jumlahnya tidak seberapa.  “Sejak ada kalong, orang males pake kendaraan pribadi.  Enak, tugas kami lebih ringan, hahaha” ungkap seorang polisi lalu lintas sambil tersenyum ramah.  Kalong (singkatan dari kereta kolong) adalah sebutan warga Jakarta kepada alat transportasi kesayangan mereka, sistem angkutan massal berupa kereta bawah tanah.  Angkutan ini menghubungkan titik-titik strategis Jakarta dengan kantung-kantung pemukiman yang tersebar di pinggiran kota.

Kusinggahi stasiun kalong terdekat.  Warga mengantri tiket dengan tertib.  Bahkan ada juga yang menggunakan kartu pembayaran menggantikan uang tunai, lebih cepat dan praktis.  Namun, aku tidak sampai masuk peron.  Baru kusadari, kantungku kosong. 

Aku melangkah lunglai, menapaki tangga kembali ke Gunung Sahari.  Uang tak punya, sementara kerongkongan mulai kering. 

“Hm, manis juga cewek itu,” kataku sambil melirik gadis berkaus hijau dengan tas putih diselempangkan. Dilihat dari gaya berpakaiannya dia pasti mahasiswi.  Perempuan ayu itu berhenti di suatu alat bentuknya seperti pot bunga.  Ia memutar keran, dan kemudian meminum air yang mengucur dari dalamnya.  “Wah, kaya di luar negeri, bisa minum gratis dari keran,” gumamku sambil melongo. 

Setelah gadis berbaju hijau berlalu, aku mencoba meminumnya.  Puas rasanya bisa melegakan dahaga dengan air tanpa biaya. 

Aku bermaksud kembali ke sampan ketika kudapati prilaku berbeda dari para pengendara motor.  Mereka begitu tertib dan sopan.  Tidak terlihat motor yang jalan melawan arah atau menerobos lampu merah.  “Kemana perginya para Valentino Rossi gadungan itu?”

Anehnya lagi, mereka langsung mematikan mesinnya ketika berhenti di lampu merah.  “Ya, biar ga polusi lah mas,” jelas seorang penunggang bebek.  Pengendara lain menambahkan bahwa jika semua motor mematikan mesin setiap berhenti di lampu merah dapat menekan tingkat polusi secara signifikan.  “Mobil ga perlu, karena kebanyakan pake AC,” lanjutnya.

“Ooo, begitu,” anggukku.

Belum sampai aku ke sampan, terdengar suara yang tidak asing bagiku, suara Mbak Iyem,  “Mas, bangun, udah pagi.  Solat subuh.” Panggilan itu menyudahi mimpiku.  Mimpi indah tentang Jakarta.

Seusai solat, kutermenung dan tiba-tiba merasa rindu kepada Jakarta impianku.  Jakarta yang tidak pernah aku, dan 12 juta orang lainnya, rasakan.  Kuyakin suatu saat akan terwujud — seperti lagu Peterpan yang dinyanyikan pemuda ditepi Ciliwung tadi — dalam mimpi yang sempurna …

Ketika Masa Itu Usai

April 23rd, 2006 by rere-hore

                                                        They said all good things must come to an end (Wet Wet Wet)


Tiap malam adalah waktu yang kutunggu
Mengenyahkan masa berdua denganmu
Mata lelah terus kupacu
Hidung berair mulai mengganggu

Sudah pukul dua belas
Biarlah, 30 menit lagi aku akan tuntas
Bah, terlewat! Lonceng 2 kali berdentang
Haruskah sudahi sekarang, karena pagi akan menjelang

Kembali keperaduan
Namun mata terpejam enggan
Sadarku masih disana
Milikku yang sedang digjaya


Hari demi hari demikian adanya
Sudah dua pekan kita bersama
Waktu luang tidak tersisa
Hampir gila ku dibuatnya

Semalam adalah kali akhir kita bersama
Usai sudah semuanya

Tabik untukmu selamanya, ONIMUSHA…Onimushadod_ps2box_usa_org_000boxart_160

SAKIT DJIWA

March 1st, 2006 by rere-hore

Tertera di bawah ini tjiri-tjiri orang jang sakit djiwanja

Pekan satoe, adjak kekasihnja kawin
Pekan doea, poetoesken tali kasih dengan kekasihnja
Pekan tiga, asjik mahsjoek dengan kekasih jang baroe

Djikalo ada kerabat anda jang poenja tjiri-tjiri di atas, berwaspadalah, nanti diadjak dia orang toek kawin.  Lebih baik bawa dia orang ke dokter ahli djiwa, biar dokter kasi ramoean jang moedjarab.

Meruya Sore Itu

February 14th, 2006 by rere-hore

Bagi yang belum pernah mendengarnya, Meruya adalah nama daerah di ujung barat Jakarta.  Nama itu berasal dari nama rawa.  Dahulu tidak ada apa pun di sana, kecuali sebagai tempat katak bertelur.  Sekarang Meruya adalah tempat tinggalku beserta ribuan orang lainnya.

Selama ini aku memandang Meruya sebagai tempat yang menyebalkan.  Airnya keruh, udaranya berdebu, suasananya bising dan jalannya macet.  Sore itu aku berpandangan lain.  Entah mengapa Meruya sore itu terasa begitu menyenangkan.

Langit begitu cerah

Matahari bersinar ramah

                 Kuputuskan membawa Ogie si anjing berjalan-jalan

                 Ia tampak begitu senang

                 Dikencinginya semua pohon sebagai tanda jajahan

                 Juga rumput, batu dan tiang

Tiba kami di taman

Rupanya bukan hanya kami yang merasa senang

Bocah-bocah berlarian, main ayunan atau panjat-panjatan

Sejoli duduk berpasang-pasangan

                Kuhabiskan waktu melihat Nadja si keponakan

                Bermain dengan sebaya, laki dan perempuan

                Bermain sepeda roda tiga, berbalapan

                Siapa cepat, dia terdepan

Meruya sore itu terasa begitu menyenangkan

                 Sayang hanya sesaat

                 Sang Surya telah kembali ke peraduan

                 Cahaya hangatnya terganti kelamnya malam

                 Semuanya berlalu begitu cepat

MENIKAH

February 13th, 2006 by rere-hore

Tidak Jadi
Semua telah berakhir

Let’s Talk About That Thing

February 9th, 2006 by rere-hore

"Re, let’s talk about marriage"
"Huh?"
"No,no,no, I mean, let’s get married"
"OK. When?"
"A.S.A.P, on June perhaps"
"Great"

a day later…

"Let’s forget what we’ve talked about"
"Huh?"
"It’s only postponing, not cancelling"
"…"
"I mean, we’re still going to be married"
"When?"
"One or two years from now.  Wait for me, will you?"
"I will"

Featuring me  as the amiable side.
The other character is you-know-who.

Pamulang - Meruya

January 27th, 2006 by rere-hore

Kekasih telah ditemui

Rindu telah terpenuhi

Kini menanti

30 km jalan yang sepi

                   Kuda besi berjalan konstan

                   Membelah jalan metropolitan

                   Gemerlap lampu malam

                   Tak kuasa menahan kantuk mengancam

Ah, hujan turun ke bumi

Tamu tak diundang ini datang lagi

Biarlah, kantuk pun undur diri

Tapi dingin mencapai nadi

                   Dingin, dingin sekali…

Terima kasih hujan, engkau tahu diri

Ada saat dimana kau tiada dinanti

Tp kantuk datang lagi

Tubuh tak kuasa mengobati

                  Haruskah berhenti

                  beli kopi

                 atau roti

                 Tidak, bisa bertahan sebentar lagi

Tuhan, kenapa sudah di sini

Rasanya belum lewati tempat ini

Rupanya sang mata sempat terlelap

Walau kuda besi terus berderap

                  Bangun, terjagalah, hai pengendara

                 Tetaplah matamu terjaga

                 Duh, kantuk ini begitu menyiksa

                 Tertidur sambil berkendara

Bangun, terjagalah, hai pengendara

Tetaplah matamu terjaga

Telah tiba di teras

Rupanya malaikat pelindung bekerja keras